Jumat, 22 Februari 2019

SMPN 20 Dengan Dhuha Bangun Karakter Siswa



Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 20 Depok membiasakan siswanya untuk salat dhuha setiap hari. Mereka mengajak para siswa memanfaatkan waktu pagi untuk sholat dhuha sebelum memulai aktivitas pembelajaran. Setelah itu ada juga yang meneruskan dengan membaca Alquran secara pribadi sampai menjelang bel sekolah berbunyi.
Alhamdulillah kami juga sudah rutin melaksanakan dhuha bersama setiap Selasa sampai Jumat dan untuk hari Jum’at ada tambahan kultum dari perwakilan kelas,” ujar Waka Bidang Humas SMPN 20 E. Yanah  M.



Dengan membiasakan salat dhuha dapat melatih siswa agar senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan. 







Pembelajaran bukan hanya dari bertambahnya pengetahuan. Tetapi dari pembangunan karakter anak didik supaya menjadi pribadi  yg cerdas..berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur,” Jelasnya







Jumat, 01 Februari 2019

Biber.solusi Ngurangi Volume Sampah Rumah Tangga



Cerita Depok - Sekarang bukan zamannya lagi membuang sampah memakai kantong plastik. Sebab, kini mengelola sampah rumah tangga dapat lebih praktis dengan metode Biopori Ember atau Biber. Cara tersebut dilakukan warga RW 14 Kelurahan Bojongsari, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok sebagai solusi mengurangi volume sampah rumah tangga masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung.


Menurut Ketua RW 14 Kelurahan Bojongsari Daud Sulaiman, dengan metode Biber, warga RW 14 diajak untuk secara praktis mengelola sampah rumah tangga. Dikatakannya, Biber merupakan salah satu bagian dari program Sampah Ada Langsung Ambil Bersih, Sehat, Rapih, dan Indah (Salam Berseri). Terlebih, metode ini juga tidak sulit dikerjakan karena hampir sama dengan pembuatan lubang biopori.

“Tetapi untuk di metode Biber ini kami memanfaatkan ember atau bekas cat yang diberi bolongan,” jelas Daud.


Dirinya menuturkan, untuk membuat Biber terlebih dahulu menyiapkan ember atau bekas cat yang sudah diberi bolongan, baik di bawah maupun sekeliling ember lubang seperti pori-pori. Kemudian ember atau bekas cat ini ditanam di dalam tanah, setelah itu lubang yang sudah ada bisa langsung diisi setiap hari oleh sampah organik.

“Prinsipnya sampah organik yang penting nempel dengan tanah akan berproses menjadi tanah kembali. Jadi kalau ingin cepat, sampahnya diaduk dengan tanah atau kompos yang udah jadi di atasnya. Kalau sudah penuh bisa diambil dan dimanfaatkan untuk kompos. Sedangkan sampah anorganik bisa ditabung ke bank sampah” jelasnya.


Sementara itu, Lurah Bojongsari, Undang Hidayat mengaku bangga atas inisiasi yang diberikan warga RW 14. Diharapkan warga RW 14 bisa menerapkan program Salam Berseri terlebih mengimplementasikan Biber di rumah masing-masing.

“Harapan kami Biber dan bank sampah di RW 14 dapat menjadi pilar dan contoh untuk diterapkan setiap RW di Bojongsari. Kemudian juga ditingkat pengelolaannya di rumah tangga, sehingga sampah tidak di buang ke TPA Cipayung,” pungkasnya.



DPAPMK Kota Depok Apresiasi DLD Soal SKPA




Cerita Depok - Kepala Bidang (Kabid) Tumbuh Kembang dan Pengembangan Kota Layak Anak (TK-PKLA) Dinas Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga (DPAPMK) Kota Depok, Yulia Oktavia memberikan apresiasi atas inisiatif masyarakat, khususnya Komunitas Dongeng Lagi Dong (DLD) yang konsen mengedukasi anak lewat gerakan mendongeng. Terlebih, materi dongeng yang diselipkan berisi pesan untuk Stop Kekerasan Pada Anak (SKPA).

“Gerakan mendongeng merupakan upaya positif dalam meningkatkan minat membaca anak-anak. Diharapkan, langkah ini juga dapat meminimalisir atau mengubah kebiasaan anak terhadap gawai (gadget),” kata Yulia di Perpustakaan Kota Depok, Minggu (27/01/2019).


Dikatakannya, mendongeng tidak terpaku kepada anak-anak saja, siapa pun bisa mendongeng. Bahkan, dirinya menilai, lebih mudah dalam menyampaikan pesan lewat mendongeng, termasuk menyampaikan pesan SKPA.

“Kami dari DPAPMK, sudah mengimbau kepada teman-teman pendongeng di Kota Depok, agar menyelipkan pesan tentang gerakan perlindungan anak dalam dongengnya Mudah-mudahan dengan upaya ini, dapat mendukung terwujudnya Kota Layak Anak (KLA),” ucapnya.


Sementara itu, apresiasi pesan SKPA juga disampaikan Dikut Andinata, peserta asal Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis. Menurutnya, tidak mudah untuk mengajarkan kepada anak tentang pentingnya menjaga tubuh dari gangguan orang lain.

“Dengan adanya dongeng yang di dalamnya memuat pesan-pesan SKPA, orang tua jadi lebih mawas diri dengan anaknya, dan anak juga tahu harus seperti apa saat berhadapan dengan orang luar. Apalagi, kalau ada yang mau bertindak jahat kepadanya,” ucapnya.