• Jumat, 27 Mei 2022

Kolom : Bj Habibie Dan Jokowi

- Selasa, 18 Januari 2022 | 20:39 WIB
residen Joko Widodo atau Jokowi (kiri) saat menerima kunjungan Presiden ketiga RI BJ Habibie di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (24/5/2019). Habibie datang sekitar pukul 14.19 WIB mengenakan pakaian batik cokelat.  (Liputan6.com/Angga Yuniar)
residen Joko Widodo atau Jokowi (kiri) saat menerima kunjungan Presiden ketiga RI BJ Habibie di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (24/5/2019). Habibie datang sekitar pukul 14.19 WIB mengenakan pakaian batik cokelat. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

CeritaDepok.Com, Jakarta - Dulu ketika saya masih kuliah MIT (Massachusetts Institute of Technology), orang-orang Indonesia yang belajar di sana terkenal sebagai orang-orang yang brilliant.

Ada pameo lokal, di antara Boston atau Cambridge socialite, bila lagi ada yang bercerita tentang seseorang yang nilai kuliah-nya straight A, orang bertanya, “Is she from Indonesia?”.

Jumlah kami tidak banyak, tapi nama kami sangat bagus. Saya sendiri mencatat nyaris semua teman Indonesia yang sekolah di sana adalah straight A students.

Baca Juga: Polantas di Bogor Berhasil Gagalkan Aksi Pencurian Mobil, Pelakunya Residivis

Room mate saya, yang kuliah di Mechanical Engineering MIT, adalah seorang mahasiswa peringkat 1 dalam ujian saringan doktoral di sana. Ini juga sekaligus mengafirmasi informasi yang saya peroleh dari teman-teman di Eropa bahwa di Perancis, di sekolah peringkat satu bidang Aerospace (boleh dibilang MIT-nya Perancis), Sup Aero, juaranya adalah juga orang-orang dari Indonesia.

Semester pertama saya menginjakkan kaki di kampus MIT, di Bandung sedang terjadi peristiwa yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Tanggal 10 Agustus 1995, tim Pak Habibie di IPTN, berhasil meluncurkan dan mensukseskan terbang perdana pesawat N250 karya putra-putri Indonesia. Huruf N adalah singkatan dari Nusantara atau Nurtanio sedangkan digit 250 berarti dua engine dan 50 penumpang. Pesawat dengan code-name Gatotkaca itu adalah pesawat juara di kelasnya dengan teknologi Fly By Wire.

Baca Juga: Sebanyak 5.000 Santri dan Pelajar Ikuti Vaksinasi Dosis Dua di Wonosobo

Calon solusi teknologi yang disiapkan oleh Pak Habibie sejak 1976 untuk menghubungkan kepulauan Indonesia lewat transportasi udara. Orang banyak tidak paham latar belakang berdirinya Industri Pesawat Terbang Nusantara (atau Dirgantara Indonesia).

Dalam diskusi kebangsaan/kebudayaan era 80/90an sempat terlontar pertanyaan mengapa Indonesia memilih bekerja sama dengan Casa, Spanyol.

Halaman:

Editor: Satrio Nusantoro

Sumber: DR. Agus Budiyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kepala Bakamla RI Hadiri Musrenbang 2022

Rabu, 4 Mei 2022 | 03:00 WIB

Ramadhan Dalam Misi Perdamaian

Selasa, 3 Mei 2022 | 21:28 WIB
X