• Kamis, 8 Desember 2022

Rusia Larang AS Kirim Rudal Jarak Jauh Ke Ukraina, Kalau Tidak?

- Jumat, 16 September 2022 | 11:05 WIB
Pemerintah Rusia akan menyasar sejumlah target baru jika pemerintah Amerika Serikat mengirimkan paket rudal jarak jauh ke Kiev (dok, Images)
Pemerintah Rusia akan menyasar sejumlah target baru jika pemerintah Amerika Serikat mengirimkan paket rudal jarak jauh ke Kiev (dok, Images)

CeritaDepok.com – Kerap membantu Ukraina dalam suplai rudal jarak jauh, Amerika Serikat (AS) diperingatkan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Rusia. Jika tetap nekat melakukan hal tersebut, Rusia menganggap AS telah melewati batas dan turut menjadi pihak yang terlibat dalam konflik di Ukraina.

Juru Bicara Kemenlu Rusia Maria Zakharova menambahkan bahwa Rusia berhak untuk mempertahankan wilayahnya. “Jika Washington memutuskan untuk memasok rudal jarak jauh ke Kyiv, maka tindakan itu dianggap melewati batas dan akan menjadi pihak langsung dalam konflik,” kata Zakharova.

AS diketahui secara terang-terangan memasok Ukraina dengan roket bersistem peluncur ganda terpandu (GMLRS). Roket GMLRS yang canggih ini menggunakan peluncur roket bersistem artileri mobilitas tinggi (HIMARS) dan dapat mencapai target hingga sejauh 80 kilometer.

Para pejabat AS mengatakan Ukraina telah berjanji untuk tidak menggunakan roket AS tersebut untuk menyerang Rusia. Peluncur HIMARS juga dapat digunakan untuk menembakkan rudal taktis jarak jauh ATACMS yang memiliki jangkauan hingga 300 kilometer.

Baca Juga: Gatot Kaca Jadi Search Engine Saingan Google Dari Indonesia

Seorang pejabat senior Ukraina menolak untuk berkomentar mengenai kepemilikan ATACMS oleh Kyiv. Belum ada penjelasan lengkap mengenai serangan pada 9 Agustus 2022 yang menghantam pangkalan udara Rusia di Saky, sekitar 200 km dari wilayah terdekat yang dikuasai Ukraina di Semenanjung Krimea.

Semenanjung Krimea merupakan wilayah yang diambil paksa oleh Rusia pada tahun 2014 yang tidak diakui oleh masyarakat internasional. Ukraina telah meminta dan menerima suplai senjata dari AS dan sekutu Barat lainnya untuk melawan angkatan bersenjata Rusia sejak Februari 2022.

Moskow berdalih bahwa pihaknya mengirim pasukan untuk mencegah Ukraina digunakan sebagai platform untuk agresi Barat dan untuk membela penutur bahasa Rusia di sana. Kyiv dan sekutu Barat lain menolak argumen tersebut dan dianggap sebagai alasan tak berdasar untuk perang agresi gaya kekaisaran.

Baca Juga: 10 Motor Listrik Besutan Honda Bakal Masuk Indonesia?  

Bulan lalu, AS mengumumkan paket bantuan militer baru dan paling besar untuk Ukraina senilai Rp45 triliun. Jika ditotal, AS telah menggelontorkan dana bantuan sekitar Rp158,5 triliun untuk Ukraina sejak awal pemerintahan Presiden AS Joe Biden pada Januari 2021.

Halaman:

Editor: Rubiakto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Media Amerika Dibatasi Liputan Banjir Pakistan

Rabu, 14 September 2022 | 08:58 WIB

Kabar Duka, Ratu Elizabeth II Meninggal Dunia

Jumat, 9 September 2022 | 08:39 WIB

Vladimir Putin Bangga Bisa Kelola Keuangan Negaranya

Kamis, 8 September 2022 | 11:42 WIB

Ini Kronologis PM Inggris Boris Johnson Mundur

Jumat, 8 Juli 2022 | 10:00 WIB
X