• Kamis, 11 Agustus 2022

BMKG : Gerak Semu Matahari Menyebabkan Suhu Panas Di Indonesia

- Selasa, 19 Oktober 2021 | 22:05 WIB
Terik Matahari disalah satu wilayah Kota Depok (Satrio Nusantoro)
Terik Matahari disalah satu wilayah Kota Depok (Satrio Nusantoro)

CeritaDepok.Com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membantah pesan berantai menyebut gelombang panas tengah melanda Indonesia. Disebutkan dalam pesan itu, cuaca sangat panas dan suhu mencapai 40 derajat celcius, dianjurkan untuk menghindari minum es atau air dingin.

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Klimatologi, Urip Haryoko memastikan berita yang beredar ini tidak tepat dan tidak benar alias hoaks. Dia menjelaskan, suhu panas dan terik saat ini tidak bisa dikatakan sebagai gelombang panas.

Urip menerangkan, gelombang panas terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi. Sementara wilayah Indonesia terletak di wilayah ekuator yang secara sistem dinamika cuaca tidak memungkinkan terjadinya gelombang panas.

Baca Juga: Jembatan Youtefa, Ikon Cantik Kota Jayapura Papua

"Gelombang panas dalam ilmu cuaca dan iklim didefinisikan sebagai periode cuaca (suhu) panas yang tidak biasa yang biasanya berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut atau lebih (sesuai batasan Badan Meteorologi Dunia atau WMO) disertai oleh kelembapan udara yang tinggi," jelas Urip dalam keterangannya, akhir pekan lalu.

Untuk dianggap sebagai gelombang panas, menurut Urip, suatu lokasi harus mencatat suhu maksimum harian melebihi ambang batas statistik, misalnya 5 derajat celcius lebih panas dari rata-rata klimatologis suhu maksimum. Selain itu, berlangsung dalam lima hari berturut-turut. Apabila suhu maksimum tersebut terjadi dalam rentang rata-ratanya dan tidak berlangsung lama maka tidak dikatakan sebagai gelombang panas.

"Gelombang panas umumnya terjadi berkaitan dengan berkembanganya pola cuaca sistem tekanan atmosfer tinggi di suatu area secara persisten dalam beberapa hari. Dalam sistem tekanan tinggi tersebut, terjadi pergerakan udara dari atmosfer bagian atas menuju permukaan (subsidensi) sehingga termampatkan dan suhunya meningkat," paparnya.

Baca Juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi dengan Meningkatkan Kualitas Hidup

Pusat tekanan atmosfer tinggi ini, lanjut Urip menyulitkan aliran udara dari daerah lain masuk ke area tersebut. Semakin lama sistem tekanan tinggi ini berkembang di suatu area, semakin meningkat panas di area tersebut, dan semakin sulit awan tumbuh di wilayah tersebut.

Sementara suhu panas di sejumlah wilayah Indonesia, kata Urip lebih disebabkan karena gerak semu matahari.

Halaman:

Editor: Satrio Nusantoro

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jokowi Minta Jepang Segera Selesaikan Proyek MRT

Kamis, 28 Juli 2022 | 09:11 WIB

Mengenal Taman Pecut Di Kota Blitar

Rabu, 13 Juli 2022 | 05:22 WIB
X