• Kamis, 1 Desember 2022

Fenomena Surya Pethak Berpotensi Terjadi Di Seluruh Wilayah Indonesia

- Sabtu, 31 Juli 2021 | 18:01 WIB
Ilustrasi Fenomena Halo Matahari di atas Kota Depok, beberapa waktu lalu. Foto : Satrio Nusantoro (Satrio Nusantoro)
Ilustrasi Fenomena Halo Matahari di atas Kota Depok, beberapa waktu lalu. Foto : Satrio Nusantoro (Satrio Nusantoro)

CeritaDepok.com, Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengatakan fenomena surya pethak atau matahari tampak memutih berpotensi terjadi di seluruh wilayah Indonesia dalam beberapa hari ke depan.

"Setiap wilayah di seluruh indonesia berpotensi mengalami surya pethak," kata peneliti di Pusat Sains dan Antariksa Lapan Andi Pangerang kepada Antara di Jakarta, Jumat (30 Juli 2021).

Ia menjelaskan fenomena surya pethak adalah saat matahari merona putih selama siang hari sejak terbit hingga terbenamnya. Menurut dia surya pethak umumnya hanya terjadi di musim-musim penghujan, ketika penguapan air cenderung tinggi sehingga kabut awan lebih mudah terbentuk.

Baca Juga: Aksi D’SabR, Menyasar Dua Wilayah Di Kecamatan Sukmajaya

"Surya pethak hanya bisa terjadi jika kualitas udara di lokasi pengamatan kurang baik, dan dari sisi meteorologis, lokasi tersebut tertutup kabut awan, sehingga penghamburan (scattering) tidak sekuat ketika langit bersih dan cerah," katanya.

Surya pethak dapat terjadi, kata dia, jika terjadi letusan gunung berapi dan perubahan sirkulasi air laut yang dapat memengaruhi penguapan dan pembentukan awan.

Secara harfiah, katanya, surya pethak bermakna matahari tampak memutih. Surya pethak dapat dimaknai sebagai alam sunya ruri atau siang hari yang temaram seperti malam hari. Siang hari yang dimaksud di sini adalah dihitung sejak matahari terbit hingga matahari terbenam.

Baca Juga: Mulai Besok Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor di Jabar, Simak Syarat dan Ketentuanya

Menurut dia sinar matahari yang biasa kemerahan ketika terbit dan terbenam akan memutih, sedangkan ketika matahari meninggi, sinar matahari tidak begitu terik dikarenakan terhalang oleh semacam kabut awan. Kejadian tersebut dapat berlangsung selama tujuh hingga empat puluh hari paling lama.

Efek dari surya pethak dapat membuat suhu permukaan bumi menjadi lebih dingin, sehingga tumbuhan tidak dapat tumbuh dengan optimal dan manusia akan mudah menggigil.

Halaman:

Editor: Satrio Nusantoro

Sumber: Antara

Tags

Terkini

Erick Thohir Cek Langsung Kesiapan PLN Layani KTT G20

Kamis, 10 November 2022 | 13:32 WIB

Peluru Nyasar Polisi, Tewaskan Warga Pontianak 

Kamis, 3 November 2022 | 05:05 WIB

Hakim Cecar Habis ART Susi dalam Sidang Bharada E

Selasa, 1 November 2022 | 03:05 WIB
X